Menikmati Magi Sigur Rós Live at Istora Senayan Jakarta

Ada 3 band yang harus saya tonton sebelum ajal menjemput, salah satunya Sigur Rós! Dan impian saya terwujud ketika kemarin mereka menggelar konser di Istora Senayan kemarin (10/5) malam. Minus Amiina dan Kjartan tak mengurangi kemagisan konser mereka. Membawa konsep baru di Spring Tour 2013 kali ini, Jónsi, Goggi, dan Orri benar-benar membuat saya merinding di setiap lagu yang mereka bawakan.

Dan sekedar info, ini adalah konser band luar negeri perdana saya!

Saya sendiri datang lebih awal untuk mengantri penukaran tiket dan juga membeli official merchandise mereka yang dalam sejam saja sudah ludes terjual. Cuaca panas dan gerah saat penukaran tiket, lalu antrian panjang mengular sebelum masuk ke arena konser cukup membuat saya gregetan.

Akhirnya saya dan teman-teman berhasil masuk ke dalam venue 10 menit sebelum konser dimulai. Beberapa kursi tribun tampak masih kosong, begitu pula di area festival. Memang tidak terlalu crowded, tapi antusiasme para fans cukup lumayan. Jauh berbeda ketika saya baru pertama kali mengenal band ini di tahun 2007, di mana orang-orang masih banyak yang belum bisa menerima musik mereka.

Sembari menunggu para personel, saya disuguhi panggung kotak sederhana yang tertutup tirai putih dengan back sound ambient yang membuat rileks sebelum akhirnya lampu dimatikan dan crowd pecah ketika panggung mulai berpendar. Ya! Tepat jam 9 orang-orang Eslandia ini mulai mempertunjukkan daya magisnya.

Pernah melihat pertunjukan wayang? Tirai putih tadi ternyata berfungsi sebagai kelir, bedanya cahaya warna-warni dan juga efek visual dari berbagai penjuru ditembakkan untuk memberikan kesan mistis sekaligus enigmatis. Yfirborð mengawali konser pertama mereka di Jakarta ini. Sempat terdengar asing memang karena lagu ini diambil dari album terbaru mereka, Kveikur. Tapi jujur saya sudah mulai merinding di detik pertama mereka tampil.

Tampil sebagai siluet di balik kelir, terlihat bayangan Jónsi menggesek gitarnya, Goggi yang sedang membetot bassnya, dan juga Orri yang sedang menggebuk drumnya.

Sambutan penonton selepas lagu pertama ini memang luar biasa, tapi menurut saya lebih karena efek visual panggung yang begitu megah, bukan karena lagu yang mereka bawakan. Begitu juga ketika mereka membawakan lagu kedua, Ný batterí. Namun kali ini lebih meriah karena tirai putih yang menutupi panggung akhirnya tersibak!

Para personel pun menampakkan wujudnya. Jónsi di tengah, Goggi di kanan dan Orri di kiri. Tampak juga band pendukung dengan beberapa pria dan wanita di belakang mereka. Mereka tak lagi hanya sebuah bayangan! I feel goosebumps all over again.

Dilanjut langsung dengan Vaka, panggung kemudian didominasi warna merah dari video yang menempel di belakang panggung. Video ini diambil dari video Vaka sendiri. Penonton mulai menunjukkan antusiasme lebih ketika lagu lama ini dimainkan.

Namun, seolah-olah Jónsi cs ingin sedikit menahan antusiasme para fans dengan memainkan 1 lagu baru lagi: Hrafntinna, sebelum akhirnya crowd dihentak dengan dentingan khas Sæglópur.

Tensi pun menaik, sebelum akhirnya didinginkan oleh aura mistis Svefn-g-englar, salah satu lagu paling kelam dari mereka. Namun sambutan untuk lagu ini begitu meriah. Ketika sayup-sayup lagu ini mulai terdengar, penonton sudah ancang-ancang dengan menyanyikan refrainnya yang cukup membuat bulu kuduk merinding: tjúúúúúúúúúúúúúú.

Jujur, ini adalah lagu Sigur Rós pertama saya dan tak heran saya pun ikut-ikutan ekstatik di lagu yang cukup depresif ini. Antara gembira sekaligus khusyuk ketika saya akhirnya mendengarkan lagu ini secara live, terutama ketika suara falsetto Jónsi, yang di satu momen bernyanyi melalui gitarnya, masuk ke kepala saya. Merinding? Sudah pasti…

Lagu selanjutnya adalah Varúð dari album Valtari. Di sinilah saya mulai merasakan kesakralan klimaks dari sebuah lagu post-rock. Diawali dengan depresif, Varúð kemudian diakhiri dengan klimaks yang menghentak. Beberapa penonton mulai menepuk-nepuk tangan mereka mengikuti irama klimaks yang begitu menggelegar.

Selain Svefn-g-englar, lagu lain yang ingin saya saksikan secara live adalah Hoppípolla - Með blóðnasir. Begitu denting piano dan betotan double bass dimainkan, penonton langsung berteriak antusias dan seisi Istora benar-benar terasa menggelegar. Dan kata siapa di konser Sigur Rós kita tidak bisa sing along? Dari awal sampai akhir lagu, penonton benar-benar menemani Jónsi bernyanyi! Terlihat beberapa kali dia tersenyum takjub, terutama ketika penonton sudah berteriak “owe oweee owe oweee” sebelum Með blóðnasir versi live dimainkan, Jónsi tampak senang-senang saja didahului oleh para fansnya.

Menurut saya, inilah momen paling epik di konser ini! Merinding dan bahagia bercampur jadi satu!

Sayangnya momen ini serasa sangat cepat habis, jika bisa saya ingin Hoppípolla diulang sekali lagi. Tapi untungnya lagu selanjutnya adalah Olsen Olsen! Di sini Jónsi juga terlihat sedikit kaget ketika para penonton koor mengikuti suara flute di lagu ini. Sampai-sampai dia pun tergerak untuk mempimpin koor di akhir lagu!

3 lagu terakhir benar-benar membuat euforia tak tertahan sebelum akhirnya dilanjut ke lagu berikutnya, Kveikur. Masih asing dan tampaknya penonton memilih untuk beristirahat di lagu ini sampai di pertengahan lagu berikutnya, Festival.

Di lagu ini pentonton dibuat takjub ketika Jónsi menarik suara sepanjang hampir 1 menit dalam 1 tarikan nafas sebelum dilanjut dengan klimaks yang menggebrak. Untuk kesekian kalinya venue dibuat bergetar!

Dilanjut dengan Brennistein dan penonton belum menyadari bahwa mereka sedang berada di penghujung acara. Yap, inilah lagu terakhir sebelum sesi encore. Dari sekian lagu baru, sepintas ada kesan destruktif yang mereka bawa di album baru mereka. Banyak noise, dentuman di sana-sini, dan dibarengi efek visual yang cukup ‘eksplosif’.

Ketika para personel satu per satu meninggalkan panggung, penonton mulai meneriakkan encore (lucunya, encore setelah konser benar-benar selesai terdengar lebih keras dari ini). Para personel pun kembali masuk dan membawakan dua lagu yang cukup sakral, Glosoli dan Popplagið sebelum mengakhiri konser mereka di Indonesia.

Dari visual panggung yang sensasional ke mistisnya Svefn-g-englar, sing along Hoppípolla - Með blóðnasir, merdunya Olsen Olsen, dan tarikan suara Jónsi di Festival. Mungkin itulah momen-momen yang paling saya dapat.

Overall konser ini terasa sangat magis dan memberikan definisi berbeda akan sebuah konser musik. Sayangnya, ending berasa kurang memorable dan ada sedikit perasaan ‘kurang’. Saya masih belum sempat menangis, mungkin karena venue yang kurang mendukung. Tapi yang jelas saya akan merindukan kalian dan mengharapkan kedatangan kalian kembali!

(Maaf tidak ada foto yang spektakuler untuk dishare karena semalam saya benar-benar ingin menikmati konsernya)

Takk…

Jakarta! Dunia Baru dari Kacamata Eropa

 

Jangan menilai buku dari sampulnya. Kalimat ini mungkin bijak, namun kadang beberapa orang tidak peduli, termasuk saya sendiri. Dari sampulnya saya langsung ingin menerka-nerka seperti apa isi buku tentang kota yang saya tinggali sekarang yang ditulis oleh orang Prancis yang baru saya dengar namanya.

 

Yang ada adalah sebuah durian dengan bola dunia berpeta Indonesia di dalamnya serta sepucuk pistol. The Big Durian, begitu buku ini menyebutnya. Saya mencoba menghubungkannya dengan judulnya. Mungkin penulis ingin menggambarkan Jakarta yang berkulit dan berbau tajam seperti durian di luar namun ternyata memiliki daging yang manis di dalamnya.

 

Tapi apa hubungannya dengan pistol di huruf J? Ini yang membuat saya bertanya-tanya.

 

Jawaban tidak akan muncul tanpa saya membacanya, begitu pikir saya. Dan saya pun mulai membaca buku ini (ngomong-ngomong terima kasih atas bukunya, Mas Thomson!).

 

Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup pemuda berdarah Prancis-Inggris bernama Edwin Marshall, seorang pemuda yang boleh dibilang lahir di tempat dan waktu yang salah.

 

Dia lahir di sebuah benua yang menurutnya sulit untuk menerima gairah kemudaannya. Di mata Edwin, Eropa adalah sebuah tempat kolot dan membosankan di mana sehari-hari bagaikan hidup dalam sebuah template. Bagi kita orang Indonesia yang mendambakan benua Eropa sebagai tempat tinggal yang indah mungkin pernyataan ini cukup mengejutkan.

 

Sebagai lulusan sekolah bisnis ternama, Edwin merupakan pemuda yang cerdas dan boleh dibilang menjanjikan. Namun dia sama sekali tidak terpikat menggunakan semua bakatnya itu untuk memasuki kehidupan orang-orang dewasa di Prancis maupun di Eropa.

 

Tensi cerita menaik ketika adik Edwin, Nigel tewas karena kecelakaan dan Anna, wanita yang paling dekat dengannya memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain seusai magang di sebuah perusahaan Jepang. Dari sinilah Edwin kemudian bertemu John dan seolah-olah menjelaskan kepada saya apa arti simbol pistol di sampul novel ini. Ya, Edwin akhirnya menemukan pekerjaan yang menurutnya sangat menantang dan tidak membosankan.

 

Pekerjaan ini membawanya pergi ke berbagai belahan dunia, dari Eropa ke Amerika lalu ke negara-negara seperti India, Brasil dan China. Edwin belajar geopolitik, geografi, ekonomi, komunikasi dan juga teknologi.

 

Buku ini cukup membuka mata saya tentang keadaan di luar sana. Opini-opini dari penulis tentang setiap negara yang ditulisnya seakan-akan turut membawa saya serta ke dalam perjalanan tokohnya dan menikmati setiap ketegangan konfliknya.

 

Lalu kenapa Jakarta? Karena di akhir cerita tokoh utama telah menemukan tempat berlabuh terakhirnya di ibukota kita tercinta ini. Berbagai negara sudah ia singgahi, bahkan dia terkadang harus hidup dengan cara hidup orang-orang yang tinggal di sana namun hanya Jakarta-lah dia menemukan cinta sejatinya. Di sini semuanya terlihat menarik, dan menurutnya orang-orang Indonesia bukanlah orang yang hidup dalam template. Mereka adalah orang-orang yang tahu bagaimana cara untuk membuat hidup lebih berwarna di balik semua keterbatasannya.

 

Jika banyak orang Indonesia yang menganggap Jakarta dan juga Indonesia sebagai tempat yang suram dan tak bermasa depan, Edwin justru memandangnya dengan penuh potensi. Bagi saya Edwin adalah seorang pelayar Eropa masa lampau yang telah menemukan sebuah dunia baru dengan segala optimismenya.

 

Overall, novel yang sama sekali tak memiliki dialog ini benar-benar dapat menjadi media pembuka wawasan kita terhadap apa yang terjadi di luar sana. Kita dapat mempelajari bagaimana sebuah negara berjalan, intrik-intrik di dalamnya beserta perilaku para penduduknya.

 

Buku ini juga menjadi bukti akan sebuah pandangan bahwa kita selalu memandang rumput tetangga yang menurut kita selalu lebih hijau. Orang-orang Indonesia saat ini menurut saya sudah menyadari segala potensi yang ada di negara ini, namun mereka masih belum bisa menghilangkan pandangan bahwa semua yang ada di luar sana jauh lebih baik daripada di sini.

New design, no longer beta. Join Mindtalk now!

New design, no longer beta. Join Mindtalk now!

0 notes

Awesome, isn’t it? This is Mindtalk, an interest meet-up space from Indonesia. Today it’s no longer beta and along with that they also released the new design.

Awesome, isn’t it? This is Mindtalk, an interest meet-up space from Indonesia. Today it’s no longer beta and along with that they also released the new design.

0 notes

Mindtalk: Mengubah Paradigma Dunia IT Lokal dengan Inovasi Anak Bangsa

image

Satu dekade lalu di Indonesia mungkin hanya segelintir orang yang bisa menikmati teknologi, terutama internet. Komputer masih barang mewah. Warnet hanya ada di kota-kota besar, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, dan kecepatan pun masih seadanya. Praktisi dan perusahaan lokal berbasis IT pun masih sangat jarang. Orang-orang masih belum melirik potensi yang dimiliki oleh bidang IT.

Sepuluh tahun kemudian, teknologi sudah mulai bisa dinikmati semua orang. Laptop sudah bukan barang mewah. Warnet bahkan sudah mulai ditinggalkan karena sekarang setiap orang memiliki jaringan internet di rumah masing-masing. Namun, pandangan kebanyakan orang Indonesia terhadap dunia IT masih belum berubah.

Perkembangan teknologi di ranah global sendiri semakin kencang. Dilihat dari nilainya dan juga dari kekuatan modalnya, perusahaan-perusahaan IT menjelma menjadi salah satu kekuatan global. Kekuatan lama seperti IBM, Microsoft, Apple, Hewlett-Packard masih terlihat dominan dan masih terus berinovasi. Sedangkan dilihat dari apa yang mereka berikan, perusahaan-perusahaan ini sudah merubah bagaimana cara kita untuk mendapatkan informasi dan juga untuk berkomunikasi satu sama lain. Untuk hal ini, kita harus berterima kasih kepada kekuatan baru seperti Google dan juga beberapa lini dari jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Orang-orang yang bekerja di bidang ini memiliki pride tersendiri. Tanyakan pada lulusan-lulusan universitas di Amerika seberapa ingin mereka menjadi bagian dari Silicon Valley. Tanyakan juga pada teknisi-teknisi Nokia sebagai salah satu perusahaan IT yang paling royal dalam menggaji karyawannya. Atau tanyakan pada beberapa karyawan Foxconn di China yang memiliki kebanggaan tersendiri karena telah merakit salah satu gadget terbaik di dunia meskipun kabarnya mengalami eksploitasi.

Kebalikannya di ranah lokal, perusahaan maupun produk IT masih kurang diminati. Perusahaan minyak dan tambang, bank, instansi pemerintah dan juga BUMN masih menjadi favorit para fresh graduate. Memang benar, di luar negeri juga perusahaan minyak, tambang dan bank masih menawarkan gengsi tersendiri apalagi untuk masalah salary. Tapi mereka sudah mengubah paradigma, bahwa dunia IT adalah dunia yang mapan dan menjanjikan dan para pekerja IT bukan lagi orang-orang yang geeky, tapi orang-orang yang cool, smart dan kreatif. Di Indonesia paradigma seperti itu agaknya masih belum terwujud.

Pola pikir seperti itu timbul dari berbagai kemungkinan. Salah satunya karena masih sedikitnya perusahaan IT yang well-known. Beberapa perusahaan dan produk IT lokal masih terlihat low-profile dan jarang mendapat dukungan. Tren global social media saat ini memang sangat menjanjikan, namun belum terlalu menginspirasi developer dan juga investor untuk membangun startup lokal yang dapat bersaing dengan startup global lainnya. 

Mindtalk mencoba menjawab tantangan tersebut. Mindtalk sendiri lahir dari tangan anak bangsa bernama Robin Syihab bersama dengan Danny Oei Wirianto di tengah kekosongan jejaring sosial lokal. Mindtalk memanfaatkan momen ini untuk muncul sebagai satu-satunya jejaring sosial lokal berskala besar yang berbasis pada interest atau ketertarikan.

Dengan segala inovasinya, Mindtalk berusaha menjadi pionir startup asli lokal yang bisa menjadi katalis produk-produk IT lainnya untuk menjadi lebih high profile. Untuk inovasi secara teknis, arsitektur Mindtalk sendiri terbilang modern untuk ukuran lokal. Mindtalk menggabungkan teknologi PHP, Python, dan juga MongoDB. Sedangkan secara experience, Mindtalk menyederhanakan forum dan mailing list dengan berbasiskan pada interest atau ketertarikan karena orang-orang memiliki kecenderungan untuk berinteraksi lebih intens jika menyangkut hal-hal yang mereka sukai. Penggabungan dua konsep inilah yang menjadi senjata Mindtalk untuk bersaing dengan startup global lainnya.

Kembali ke masalah paradigma soal dunia IT tadi, Mindtak berusaha untuk merubah hal tersebut dengan memicu startup lokal untuk berinovasi bersama-sama. Sehingga nanti dapat tercipta sebuah ekosistem IT lokal yang lebih mapan dan prospektif.

Namun, sebagai sebuah produk IT dan juga jejaring sosial, Mindtalk juga butuh dukungan terutama dari para penggunanya. Di momen Hari Kemerdekaan ini akan sangat pas rasanya jika kita ikut berpartisipasi memajukan ekosistem IT lokal dengan menggunakan produk-produk teknologi karya anak bangsa. China sendiri begitu bangga menggunakan produk IT lokalnya, kenapa kita tidak? Dengan dukungan dari kita, bukan tidak mungkin impian kita akan dunia IT lokal yang mapan, prospektif dan juga memiliki kebanggaan tersendiri akan dapat segera terwujud.

1 note

Internet dan Identitas

Beberapa waktu yang lalu banyak teman-teman saya yang sedikit ribut ketika saya mengganti username Twitter saya dari nama asli menjadi nama yang tak jelas maknanya. Dan saya pikir pasti bukan hanya saya saja yang mengalami hal demikian, beberapa dari Anda pasti ada yang pernah mengalaminya. Ada yang sekedar bercanda namun ada juga yang sedikit serius. Ada yang bilang kurang kerjaan, ada juga yang bilang alay. Saya bilang: ada-ada saja.

Apakah orang-orang ini bisa membedakan antara kolom username dan full name di formulir pendaftaran di suatu situs? Apakah orang-orang ini pernah menelusuri sejarah username sebelum situs-situs jejaring sosial yang mereka gunakan saat ini muncul? Saya pikir: belum!

Jauh sebelum era jejaring sosial, situs-situs yang mengharuskan penggunanya untuk mendaftar guna mendapatkan akses ke dalam situsnya sudah banyak. Username dan password menjadi dua pasang kunci akses untuk mengarungi dunia maya. Username menjadi sebuah “identitas yang bukan identitas”.

Pernahkah Anda memperhatikan username yang digunakan orang-orang di platform chat atau di forum-forum di masa-masa di mana internet belum menjamur seperti sekarang? Kombinasi huruf dan angka menjadi sesuatu yang umum. Banyak nama dicomot dari istilah-istilah yang cukup keren, baik untuk merepresentasikan diri mereka atau hanya asal comot saja. Username dengan nama lengkap? Mungkin hanya 1 dari 10 pengguna sebuah situs yang menggunakannya.

Saya pernah mendengar kutipan seseorang dari sebuah acara televisi. Kalau saya tidak salah ingat, beliau adalah seorang pengajar di pesantren yang menerapkan kurikulum berbasis teknologi. Di samping visinya yang sagat progresif dan sangat terbuka terhadap teknologi, beliau bilang pada murid-muridnya, “Di internet gunakanlah selalu nama asli kalian. Dengan nama asli, kalian menunjukkan bahwa kalian berani untuk menunjukkan jati diri kalian.”

Berani? Dengan kata lain orang-orang dengan username bukan nama asli adalah seorang pengecut? Sebegitu pentingkah sebuah identitas? Apakah internet sekarang sesempit itu?

Banyak yang mengharapkan merebaknya jejaring sosial saat ini menjadi sebuah media yang bisa membawa dunia nyata ke dalam internet. Namun saya pikir justru sebaliknya, internetlah yang justru terbawa ke dalam dunia nyata dengan segala keterbatasannya. Seperti halnya alam semesta, internet pada dasarnya adalah dunia tanpa batas dan memang internet diciptakan untuk meniadakan batas fisik, ruang, dan waktu.

Jurnalis Parmy Olson yang menghabiskan waktu satu tahun untuk meneliti grup hacker terkenal Anonymous bahkan bilang, “Internet adalah tempat di mana kita bisa menjadi siapapun yang kita inginkan.” Pria bisa menjadi wanita, Islam bisa menjadi Yahudi, orang dewasa menjadi anak-anak, orang kulit putih menjadi orang kulit hitam. Tidak ada batasan fisik yang pasti di sini. Setiap orang bisa berinteraksi tanpa batas tanpa sebuah identitas yang mengikat.

Namun kini,semenjak merebaknya jejaring sosial, identitas asli seakan menjadi sebuah keharusan. Bahkan sampai-sampai terbawa ke situs-situs lain. Mungkin pada awalnya, hal ini memudahkan orang untuk terkoneksi satu sama lain baik di dunia maya ataupun dunia nyata. Sayang sekali pada praktiknya kemudian, orang-orang menjadi terlalu strict, terlalu ketat dalam menerapkan hal ini dan menghakimi orang-orang yang tidak menggunakan identitas asli (walaupun itu username) sebagai sebuah pelarian jati diri.

Manusia memiliki kecenderungan untuk mengekspresikan sisi lain diri mereka sendiri. Eksplorasi kepribadian menjadi sebuah hal yang wajar sebagai suatu bentuk perlawanan akan sebuah stagnansi diri. Seperti kutipan di atas tadi, di internet siapapun bisa menjadi siapapun dan internet adalah media yang tepat untuk mengekspresikan diri tanpa peduli siapa diri.

Saya sering menyimak beberapa sepak terjang teman-teman saya di ranah maya. Banyak yang pada dasarnya pemalu menjadi begitu percaya diri. Banyak yang aslinya tampak sederhana bisa menjadi sebegitu liar. Namun semuanya tampak nyaman. Psikolog senior yang mewawancari saya dalam interview kerja beberapa waktu lalu juga berkata,”Jika Anda merasa tidak bebas mengekspresikan apa yang Anda inginkan, Anda sekarang bisa bebas melakukannya di internet.”

Internet adalah sebuah playground untuk generasi saat ini. Bayangkan jika Anda seorang anak kecil. Ibaratkan sekolah itu dunia nyata Anda dan Anda ingin keluar sejenak dari kepenatan dunia nyata ke sebuah taman bermain (internet). Di internet ini seperti halnya di taman bermain, Anda hanya ingin bermain, apa saja dan tidak peduli dengan siapa saja. Anda tidak ingin diri Anda dibatasi di sini. Yang Anda inginkan hanyalah kebebasan berinteraksi.

Tahukah Anda apa yang lebih buruk dari seorang geek yang setiap harinya hanya mengakses situs-situs porno? Yang lebih buruk dari itu adalah orang yang membatasi internet sedemikian rupa untuk menjadikannya seperti dunia nyata apalagi demi nama “identitas”.

Membatasi kebebasan demi sebuah identitas adalah suatu hal yang konyol, apalagi di ranah internet. Kebebasan adalah budaya internet yang sudah mengakar. Anda berhak menjadi siapapun dan apapun di sini. Orang-orang yang membatasi internet demi sebuah identitas kadang bisa menjadi sangat nasionalis ketika menyalahkan budaya luar yang pelan-pelan menggerogoti budaya negeri mereka. Namun tidakkah mereka sadar, mereka sendiri juga menggerogoti budaya internet yang sudah terbentuk sedemikian rupa?

Mereka seolah-olah bertindak seperti otoritas yang tahu segalanya. Bagi saya itu sebuah kejahatan. Saatnya internet kembali pada akarnya: kebebasan. Karena Anda rugi jika di internet, Anda hanya menjadi diri sendiri.

0 notes

Cari Kerja (Memang) Susah, Bung! (Part 2)

… Semua menerapkan tes kemampuan dasar (biasanya berupa logika matematika) dan juga psikotes standar rekrutmen karyawan Indonesia. Tes pertama saya adalah dengan perusahaan rokok yang sahamnya dimiliki perusahaan rokok Amerika. Yang lucu, beberapa hari sebelumnya saya sempat menonton dokumenter berjudul Sex, Lies and Cigarettes yang membeberkan tentang cengkeraman perusahaan rokok ini terhadap generasi muda bangsa kita dan pada saat akan tes, saya disuguhi video company profile mereka yang sangat “meyakinkan” dan sedikit artistik.Sungguh ironis! Sedangkan tesnya sendiri cukup sulit mengingat hampir semuanya hitung-hitungan dan saya sudah lama tidak menyentuh hal-hal semacam demikian. Hasilnya: tentu saja saya tidak lolos. Kabarnya perusahaan ini berani memberi gaji di angka 8 juta/bulan untuk fresh graduate.

Tes kedua tepat sehari setelah tes pertama. Kali ini dengan sebuah bank milik keluarga. Bank ini terbuka untuk semua jurusan dan tes dilakukan oleh pihak ketiga yang dipercaya oleh bank tersebut. Gaji? Untuk perusahaan sekelas bank di level management trainee tentu saja jangan ditanya. Tesnya sendiri ada tes kemampuan dasar dan psikotes. Lagi-lagi saya harus bertemu dengan matematika. Saya akui saya lemah di matematika, tapi untuk psikotes saya cukup percaya diri. Hasilnya? Lolos ke tahap interview. Perusahaan ini menjadi pengalaman interview pertama saya. Cukup mengejutkan mengingat interview hanya berlangsung selama 5 menit dengan hanya 2 pertanyaan. Namun walaupun hanya 5 menit, rasa grogi saya cukup memuncak. Saya bahkan susah untuk rileks. Hasilnya? Saya pun tidak lolos haha.

Beberapa hari kemudian adalah tes saya dengan salah satu perusahaan IT terbesar di dunia. Ini yang saya nanti! Untuk merasakan atmosfer rekrutmennya pun saya sudah cukup bangga. Dari beberapa info yang saya dapat dari internet, rekrutmennya ternyata sangat ketat, padahal rekrutmen ini hanya untuk program internship! Peminatnya sangat banyak karena program internship ini juga sangat menjanjikan. Peserta mendapatkan warm welcome dari panitia, namun warm welcome tadi sepertinya tidak berlaku ketika tes. Jujur, ini tes tertulis yang paling sulit selama saya mengikuti rekrutmen di beberapa perusahaan. Ada logika kata dan matematika, semua dalam bahasa Inggris dan berlangsung dengan sangat cepat. Saya memang dari jurusan Inggris, namun itu tidak menjamin untuk membuat saya mengerti bahasa matematika. Satu soal membutuhkan kecermatan tinggi sembari dikejar waktu dalam hitungan detik saja. Banyak yang tidak terisi dan saya pikir sebagus apapun saya menulis esai bahasa Inggris di sesi selanjutnya tidak akan berpengaruh banyak. Hasilnya? Langsung diumumkan setelah tes. Serba kilat dan hanya beberapa orang yang lolos, tidak termasuk saya. Tapi peserta disuguhi nasi kotak, jarang ada rekrutmen menyuguhkan hal seperti ini.

Tes berikutnya adalah dengan salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan warna merah khasnya. Ada 3 sesi tes: psikotes (sepertinya Raven test), Pauli, kemudian angket kepribadian. Perusahaan ini cukup terbuka untuk lulusan Sastra dengan memberi satu pekerjaan yang memang khusus untuk lulusan Sastra, namun pekerjaannya tampak tidak berhubungan dengan sastra. Saya sudah pernah melalui tes Raven sebelumnya dan saya cukup percaya diri untuk lolos. Memang benar, saya pun kemudian mengikuti tes Pauli pertama saya. Tesnya berupa deret angka dalam 1 kertas koran, dijumlahkan dari atas ke bawah. Ternyata saya lolos, walaupun ini pengalaman pertama saya. Kabarnya cukup mengisi 1,5 bagian kertas sudah cukup, tapi ada saja yang minta tambah kertas. Selanjutnya angket kepribadian, saya isi saja sejujurnya. Kata pengawas, yang sudah sampai tahap ini sudah pasti lolos interview. Namun agak sulit untuk mempercayai kata-katanya. Hasilnya? Tidak lolos.

Jujur saya sendiri sudah menyadari untuk program seperti management trainee, kepribadian saya bertolak belakang. Sebelum mengikuti proses rekrutmen saya sudah sedikit mengetahui tentang kepribadian apa saja yang cocok dengan beberapa pekerjaan, dan ini memang vital. Pribadi saya yang flegmatis tentu saja berbanding terbalik dengan program rekrutmen yang nantinya akan melahirkan pemimpin-pemimpin perusahaan. Namun karena ingin mencoba, saya nekat saja.

Kemudian rekrutmen saya selanjutnya adalah dengan bank (lagi) syariah pertama di Indonesia. Sesi pertama dibuka dengan pengetahuan bank syariah dan agama Islam. Cukup belajar semalam saja cukup untuk meloloskan Anda. Sesi berikutnya adalah interview dengan pejabat bank setempat. Berlangsung cukup rileks, tidak seperti di interview pertama saya dengan bank lain. Hati-hati dengan pertanyaan tak terduga karena interviewer bukanlah psikolog. Jika sudah begini, membuallah sesuka hati hehe. Di sesi ini saya juga sempat menanyakan kenapa bank ini membuka lowongan untuk semua jurusan. Jawabannya? Interviewer bilang, “Kami positif. Semua orang dari semua jurusan pasti memiliki potensi.” So wise…

Saya pun lanjut ke sesi berikutnya di hari lain. Psikotes lagi! Terbagi menjadi beberapa tahap. Saya cukup percaya diri untuk lolos dan ternyata memang lolos. Interview dengan psikolog pun menanti. Interviewer adalah seorang psikolog senior dari salah satu kampus negeri terkemuka. Kini saya menjadi tahu perbedaan psikolog senior dengan yang masih “junior”. Di depannya saya tidak merasa terintimidasi, semuanya mengalir begitu saja dan seakan dia tahu betul apa masalah saya sebelum saya menceritakannya. Semuanya pun berujung menjadi “curhat” haha… Tapi memang benar seperti itu. Walaupun di sesi ini semua berjalan lancar saya hampir 100% yakin saya tidak akan lolos. Alasannya sudah saya kemukakan sebelumnya. Bukannya pesimis, saya realistis. Lagipula diterima atau tidak saya sudah yakin untuk tidak mengambilnya karena sedikit tidak sreg dengan nuansa perusahaan tersebut, saya ikut rekrutmen untuk menambah jam terbang tes kerja saja. Mau bilang ngeles terserah :p

Lulus dari perguruan tinggi negeri yang selalu masuk 3 besar peringkat nasional bukanlah sebuah jaminan mendapatkan pekerjaan, apalagi dari jurusan seperti saya. Bahkan untuk lolos seleksi administrasi pun belum jaminan, kecuali Anda dari jurusan yang cukup “bergengsi”. Kualitas, kepribadian dan yang paling utama, keberuntungan menjadi modal Anda nantinya dari universitas mana pun Anda berasal. Ini mengingatkan saya dan teman-teman SMA saya dulu, dari SMA daerah namun mampu kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik.

Saya menulis pengalaman ini dengan harapan lulusan jurusan Sastra Inggris atau jurusan-jurusan “outsider” lainnya mendapatkan gambaran tentang apa yang mesti dilakukan setelah lulus nanti. Seperti yang saya bilang dari awal, masih banyak mahasiswa yang bingung untuk ke mana setelah lulus nanti. Apalagi mahasiswa jurusan Sastra yang memiliki ruang lingkup kerja cukup sempit jika ingin mendapatkan pekerjaan yang “layak”. Bisa disimpulkan, pekerjaan non-akademis (selain menjadi pengajar, akademisi atau researcher) yang tidak melenceng jauh dari kuliah, cukup terbuka dan mau memberikan posisi yang “layak” untuk jurusan Sastra terutama Sastra Inggris tentu saja di media atau dunia kreatif lainnya, yang kadang tidak mementingkan ijazah. Di sana atmosfer bebasnya memang terasa, jadi yang terbiasa bebas sebagai mahasiswa Sastra mungkin bisa lebih betah. Bisa juga menjadi abdi negara,terutama di kementerian atau departemen-departemen negara. Tapi pada akhirnya Anda yang memutuskan untuk bekerja di mana. Yang jelas jika ada yang ingin berdebat soal wirausaha, tulisan ini tidak untuk membahas itu :)

1 note

Cari Kerja (Memang) Susah, Bung! (Part 1)

Setelah lulus, mau apa? Pertanyaan yang susah dijawab terutama oleh orang-orang penganut filosofi “let it flow” alias orang-orang yang suka bilang “gimana nanti”. Sebenarnya itu istilah halus untuk orang-orang yang tidak punya orientasi hidup yang berpikir hidup itu untuk hari ini bukan untuk esok. Dan saya sepertinya masuk dalam golongan orang-orang tersebut. Menyedihkan bukan? Tapi faktanya memang begitu, saya pikir masih banyak orang yang bingung akan ke mana setelah kuliah. Mau kuliah lagi, kerja, atau wirausaha? Semua masih di awang-awang.

Mendapat gelar sarjana itu sebuah kelegaan namun juga akan jadi beban kemudian. Gelar sarjana itu bukan sebuah akhir, namun sebuah permulaan. Kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Bahkan bagi saya, keadaan jobless setelah memegang gelar sarjana itu jauh lebih buruk daripada ketika ditanya “Kapan lulus?” Setidaknya ketika kelulusan saya tertunda karena berbagai hal, status saya masih jelas: mahasiswa. Namun setelah lulus dan masih juga jobless, status berubah menjadi: pengangguran!

Saya dari jurusan Sastra Inggris dan jika ada orang yang bilang jurusan Inggris bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dengan mudah karena “bisa berbahasa Inggris” itu omong kosong! Silahkan saja Anda cek lowongan-lowongan pekerjaan yang ada, mungkin hanya 1 dari 10 lowongan yang mencantumkan jurusan Inggris. Menjadi sarjana jurusan Inggris tidak sefleksibel sarjana dari jurusan lain. Peluang untuk mengajukan CV Anda ke perusahaan-perusahaan top sangat kecil.Anda tidak bisa dengan leluasanya mengajukan lamaran ke perusahaan-perusahaan tersebut layaknya mahasiwa lulusan dari fakultas Ekonomi atau Teknik.

Ilmu dari jurusan Sastra memang sangat teoretis, kurang praktikal. Mahasiswa jurusan Sastra memang lekat dengan analisis, namun untuk decision making lain cerita. Memang sebenarnya jurusan ini bersifat akademis, jurusan ini memang menciptakan para pemikir, bukan para tenaga yang siap kerja. Dosen pembimbing saya sendiri yang berkata demikian. Untuk yang ingin menjadi akademisi, peneliti atau tenaga pengajar mungkin jurusan ini cocok. Untuk yang ingin keluar jalur akademis, perusahaan media atau periklanan cukup terbuka untuk jurusan ini. Tapi untuk pekerjaan-pekerjaan yang menurut orang lain “tepandang, prospektif, bisa dengan mudah dipakai untuk melamar anak orang”, lulusan Sastra tidak memiliki kesempatan yang luas.

Tepat setelah lulus, saya yang termasuk penganut “let it flow” pun bingung. Sempat terpikir untuk menjadi PNS karena hampir seluruh keluarga besar saya bekerja sebagai abdi negara. Namun karena adanya moratorium, sepertinya rencana tersebut tidak bisa terlaksana dalam waktu cepat. Sempat mencari-cari pekerjaan di dunia kreatif. Akhirnya saya menemukan pekerjaan yang saya pikir cocok dengan kepribadian dan jurusan saya. Telat memang saya baru mengetahui profesi itu setelah lulus kuliah. Saya pikir hanya saya yang tidak mengetahui pekerjaan itu, tapi ternyata teman-teman satu jurusan saya juga hampir semuanya tidak mengetahuinya, Sialnya ketika saya mencari-cari lowongan pekerjaan tersebut hasilnya sangatlah minim, bahkan hampir tidak ada yang membuka lowongan pada saat itu.

Akhirnya (karena terpaksa juga, daripada nganggur) saya pun memutuskan untuk mengikuti rekrutmen BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta yang katanya ketat itu sembari menunggu lowongan pekerjaan yang saya minati. Modal nekat juga karena seperti yang saya bilang tadi, tidak semua perusahaan menerima lulusan jurusan Sastra Inggris. Kebetulan waktu itu ada job fair di kampus, saya memutuskan ikut untuk merasakan atmosfernya. Saya nekat saja melamar, walaupun mereka tidak mencantumkan jurusan saya. Kebanyakan yang saya lamar program manajerialnya (dengan sekian banyak nama berbeda untuk setiap perusahaan). Program ini biasanya program dengan level paling tinggi untuk fresh graduate di sebuah perusahaan. Jadi tentu saja peminatnya sangat banyak karena prospeknya sangat cerah. Nggaya? Memang! Namanya juga mencoba, tidak ada yang salah kan?

Ternyata atmosfernya hampir-hampir mirip dengan pameran komputer. Bedanya cuma di beberapa stand perusahaan favorit biasanya ada antrian panjang. Beberapa perusahaan ada yang langsung melakukan seleksi cepat di tempat. Beberapa lagi ada yang membuka rekrutmen online. Semuanya berpakaian rapi dan terlihat sangat good looking. Saya sendiri merasa kikuk memakai pakaian seperti itu. Bayangkan,saya kebanyakan kuliah memakai kaos dan jangankan sepatu, saya lebih sering kuliah memakai sandal jepit. Rambut juga acak-acakan tanpa disisir. Tapi, peduli setan!

Dari sekian banyak lamaran yang saya masukkan di job fair, hanya dua perusahaan yang memanggil saya untuk ikut rekrutmen. Satu dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, satu lagi dari salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Ada dua panggilan lagi, tapi itu bukan dari job fair, melainkan dari rekrutmen independen. Dari rekrutmen independen ini saya dipanggil salah satu perusahaan IT terbesar bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia dan yang satu lagi dari bank milik keluarga yang lumayan besar. (cont)

0 notes

Approaching Season’s End: The Nightmare is Back Again!

Seven years without trophy with same problems every season and without any serious attempts to fix, that’s the Arsenal! At least until the first half of season 2011/2012, there are no signs of Arsenal will improve. The tagline “Forward” on Arsenal 125th Anniversary logo was deserved to be replaced with “Backward”. Large-scale purchases in summer transfer windows do not seem to give significant results. There was still no fighting spirit, the back line still looks very fragile, monotonous and wasteful midfielder, only the frontline performed brilliantly and it was because of the Robin van Persie’s fantastic form. The season went all wrong at first, probably the most frustrating season for the Gooners. Disbelief to Wenger and the board was at its high at that time following some very bad results in the league.

But everything changed in February. 5-2 win over Tottenham became Arsenal’s turning point after shamefully butchered by AC Milan 4-0 at San Siro. Arsenal form drastically changed. Jack Wilshere got some relief when Arsenal managed to overtake Tottenham to snatch third in BPL. After Tottenham, Milan were slaughtered 3-0, Liverpool beaten 1-2 at home, Manchester City were forced to lose 1-0. Arsenal displayed great fighting spirit after showing great comeback in several matches. The back line looked solid; Koscielny and Szczesny became new stars in Arsenal defense. With the midfield trio Rosicky, Arteta and Song, Arsenal midfield became more direct and effective; there is no more excessive and wasteful ball possession. Two wings were still inconsistent, but Robin van Persie’s first-class finishing looked more than enough.

For a moment I was optimistic that Wenger finally managed to solve problems that caused stagnancy during Arsenal’s trophyless seasons. With the current form, Arsenal are likely become a strong title contender for the next season. Podolski’s purchase was probably a sign that Wenger is preparing seriously for next season. But that hope was shattered when Arteta got an injury. Arsenal win rate without Arteta is 0%, the statistic shows how important Arteta’s to Arsenal. Arsenal schedule is not that tight after Chelsea clash, something they could take advantage of to secure Champions League auto spot. But the scenario turned into nightmare. Old problems reappeared, even RvP had his barren spell.

Last Saturday clash with Norwich became a bad omen. Vermaelen who previously claimed Arsenal’s defense was already solid needs to correct his words. After showing consistency for a long time, the day when Szczesny played badly finally came. Vermaelen left his post too often. Midfielder became wasteful again, thanks for choosing Aaron Ramsey again, Mr. Wenger! After having a barren spell, RvP finally found his sharpness back. But that was not enough.

Has Wenger really found a cure for Arsenal or the recent form is just a temporary effect? There’s still one game left and Wenger needs to prove whether he has really found a cure for Arsenal or not. If it is not, we have to prepare for the worst next season including the departure of Robin van Persie.

0 notes

PORTFOLIO

0 notes