Menikmati Magi Sigur Rós Live at Istora Senayan Jakarta

Ada 3 band yang harus saya tonton sebelum ajal menjemput, salah satunya Sigur Rós! Dan impian saya terwujud ketika kemarin mereka menggelar konser di Istora Senayan kemarin (10/5) malam. Minus Amiina dan Kjartan tak mengurangi kemagisan konser mereka. Membawa konsep baru di Spring Tour 2013 kali ini, Jónsi, Goggi, dan Orri benar-benar membuat saya merinding di setiap lagu yang mereka bawakan.
Dan sekedar info, ini adalah konser band luar negeri perdana saya!
Saya sendiri datang lebih awal untuk mengantri penukaran tiket dan juga membeli official merchandise mereka yang dalam sejam saja sudah ludes terjual. Cuaca panas dan gerah saat penukaran tiket, lalu antrian panjang mengular sebelum masuk ke arena konser cukup membuat saya gregetan.
Akhirnya saya dan teman-teman berhasil masuk ke dalam venue 10 menit sebelum konser dimulai. Beberapa kursi tribun tampak masih kosong, begitu pula di area festival. Memang tidak terlalu crowded, tapi antusiasme para fans cukup lumayan. Jauh berbeda ketika saya baru pertama kali mengenal band ini di tahun 2007, di mana orang-orang masih banyak yang belum bisa menerima musik mereka.
Sembari menunggu para personel, saya disuguhi panggung kotak sederhana yang tertutup tirai putih dengan back sound ambient yang membuat rileks sebelum akhirnya lampu dimatikan dan crowd pecah ketika panggung mulai berpendar. Ya! Tepat jam 9 orang-orang Eslandia ini mulai mempertunjukkan daya magisnya.
Pernah melihat pertunjukan wayang? Tirai putih tadi ternyata berfungsi sebagai kelir, bedanya cahaya warna-warni dan juga efek visual dari berbagai penjuru ditembakkan untuk memberikan kesan mistis sekaligus enigmatis. Yfirborð mengawali konser pertama mereka di Jakarta ini. Sempat terdengar asing memang karena lagu ini diambil dari album terbaru mereka, Kveikur. Tapi jujur saya sudah mulai merinding di detik pertama mereka tampil.
Tampil sebagai siluet di balik kelir, terlihat bayangan Jónsi menggesek gitarnya, Goggi yang sedang membetot bassnya, dan juga Orri yang sedang menggebuk drumnya.
Sambutan penonton selepas lagu pertama ini memang luar biasa, tapi menurut saya lebih karena efek visual panggung yang begitu megah, bukan karena lagu yang mereka bawakan. Begitu juga ketika mereka membawakan lagu kedua, Ný batterí. Namun kali ini lebih meriah karena tirai putih yang menutupi panggung akhirnya tersibak!
Para personel pun menampakkan wujudnya. Jónsi di tengah, Goggi di kanan dan Orri di kiri. Tampak juga band pendukung dengan beberapa pria dan wanita di belakang mereka. Mereka tak lagi hanya sebuah bayangan! I feel goosebumps all over again.
Dilanjut langsung dengan Vaka, panggung kemudian didominasi warna merah dari video yang menempel di belakang panggung. Video ini diambil dari video Vaka sendiri. Penonton mulai menunjukkan antusiasme lebih ketika lagu lama ini dimainkan.
Namun, seolah-olah Jónsi cs ingin sedikit menahan antusiasme para fans dengan memainkan 1 lagu baru lagi: Hrafntinna, sebelum akhirnya crowd dihentak dengan dentingan khas Sæglópur.
Tensi pun menaik, sebelum akhirnya didinginkan oleh aura mistis Svefn-g-englar, salah satu lagu paling kelam dari mereka. Namun sambutan untuk lagu ini begitu meriah. Ketika sayup-sayup lagu ini mulai terdengar, penonton sudah ancang-ancang dengan menyanyikan refrainnya yang cukup membuat bulu kuduk merinding: tjúúúúúúúúúúúúúú.
Jujur, ini adalah lagu Sigur Rós pertama saya dan tak heran saya pun ikut-ikutan ekstatik di lagu yang cukup depresif ini. Antara gembira sekaligus khusyuk ketika saya akhirnya mendengarkan lagu ini secara live, terutama ketika suara falsetto Jónsi, yang di satu momen bernyanyi melalui gitarnya, masuk ke kepala saya. Merinding? Sudah pasti…
Lagu selanjutnya adalah Varúð dari album Valtari. Di sinilah saya mulai merasakan kesakralan klimaks dari sebuah lagu post-rock. Diawali dengan depresif, Varúð kemudian diakhiri dengan klimaks yang menghentak. Beberapa penonton mulai menepuk-nepuk tangan mereka mengikuti irama klimaks yang begitu menggelegar.
Selain Svefn-g-englar, lagu lain yang ingin saya saksikan secara live adalah Hoppípolla - Með blóðnasir. Begitu denting piano dan betotan double bass dimainkan, penonton langsung berteriak antusias dan seisi Istora benar-benar terasa menggelegar. Dan kata siapa di konser Sigur Rós kita tidak bisa sing along? Dari awal sampai akhir lagu, penonton benar-benar menemani Jónsi bernyanyi! Terlihat beberapa kali dia tersenyum takjub, terutama ketika penonton sudah berteriak “owe oweee owe oweee” sebelum Með blóðnasir versi live dimainkan, Jónsi tampak senang-senang saja didahului oleh para fansnya.
Menurut saya, inilah momen paling epik di konser ini! Merinding dan bahagia bercampur jadi satu!
Sayangnya momen ini serasa sangat cepat habis, jika bisa saya ingin Hoppípolla diulang sekali lagi. Tapi untungnya lagu selanjutnya adalah Olsen Olsen! Di sini Jónsi juga terlihat sedikit kaget ketika para penonton koor mengikuti suara flute di lagu ini. Sampai-sampai dia pun tergerak untuk mempimpin koor di akhir lagu!
3 lagu terakhir benar-benar membuat euforia tak tertahan sebelum akhirnya dilanjut ke lagu berikutnya, Kveikur. Masih asing dan tampaknya penonton memilih untuk beristirahat di lagu ini sampai di pertengahan lagu berikutnya, Festival.
Di lagu ini pentonton dibuat takjub ketika Jónsi menarik suara sepanjang hampir 1 menit dalam 1 tarikan nafas sebelum dilanjut dengan klimaks yang menggebrak. Untuk kesekian kalinya venue dibuat bergetar!
Dilanjut dengan Brennistein dan penonton belum menyadari bahwa mereka sedang berada di penghujung acara. Yap, inilah lagu terakhir sebelum sesi encore. Dari sekian lagu baru, sepintas ada kesan destruktif yang mereka bawa di album baru mereka. Banyak noise, dentuman di sana-sini, dan dibarengi efek visual yang cukup ‘eksplosif’.
Ketika para personel satu per satu meninggalkan panggung, penonton mulai meneriakkan encore (lucunya, encore setelah konser benar-benar selesai terdengar lebih keras dari ini). Para personel pun kembali masuk dan membawakan dua lagu yang cukup sakral, Glosoli dan Popplagið sebelum mengakhiri konser mereka di Indonesia.
Dari visual panggung yang sensasional ke mistisnya Svefn-g-englar, sing along Hoppípolla - Með blóðnasir, merdunya Olsen Olsen, dan tarikan suara Jónsi di Festival. Mungkin itulah momen-momen yang paling saya dapat.
Overall konser ini terasa sangat magis dan memberikan definisi berbeda akan sebuah konser musik. Sayangnya, ending berasa kurang memorable dan ada sedikit perasaan ‘kurang’. Saya masih belum sempat menangis, mungkin karena venue yang kurang mendukung. Tapi yang jelas saya akan merindukan kalian dan mengharapkan kedatangan kalian kembali!
(Maaf tidak ada foto yang spektakuler untuk dishare karena semalam saya benar-benar ingin menikmati konsernya)
Takk…






